Kapan Nikah
Usia gue sudah dua puluh lima tahun. Usia
yang sudah cukup dewasa. Usia yang kata orang sudah waktunya berkeluarga. Apalagi
teman teman gue juga sudah banyak yang punya anak. Melihat mereka sudah punya
anak, membuat gue merasa gelisah. Gue seperti dihadapkan melawan T-rex. Apalagi
jika ada yang menanyakan. “kamu kapan nikah?” pertanyaan yang membuat gue
tegang. Sama tegangnya ketika seseorang menanyakan gue kapan lulus.
Pertanyaan pertanyaan
semacam itulah yang sering orang tanyakan pada saat idul fitri. Biasanya
setelah sholat id berlangsung, tetangga tetangga keliling untuk melakukan halal
bi halal. Dari satu rumah kerumah lainnya. Saling meminta maaf apabila
mempunyai salah. Kali itu gue berkeliling bersama keluarga gue, ibu, bapak, dan
adik gue. Gue dan keluarga melakukan halal bi halal ke rumah tetangga.
Setibanya di rumah tetangga, gue dan keluarga di sambut. Sama seperti lebaran
lebaran sebelumnya, gue dan keluarga ditawari makan ketupat. Makanan yang biasa
dihidangkan pada saat lebaran.
Orang tua
gue menyalami tetangga tetangga gue. Lalu selesai kami halal bi halal dengan
tetangga, kami pulang ke rumah. Karena agak siangan nanti saudara gue beserta
keluarganya akan datang kerumah gue. Orang tua gue mempersiapkan apa apa saja
yang bisa dihidankan untuk menyambut pak de gue. Mulai dari ketupat dan opor
ayam sebagai makanan utama, sampai makanan makanan ringan seperti nastar, putri
salju, dan astor. Tidak lupa pula dengan minumannya sirup marjan rasa
cocopandan sebagai penghilang dahaga.
Suara mobil
terdengar dari depan rumah. Benar. Itu adalah pak de gue beserta keluarganya.
Pak de gue datang dengan bu de gue dan dua anaknya. Anak yang pertama seumuran
gue, perempuan. Dan anak yang kedua tiga tahun lebih muda dari gue. Sesampainya
di rumah, orang tua gue menyambut mereka.
“Assalamualaiku”
kata pak de gue dan keuarganya.
“Waalaikumussalam,
gimana kabarnya pak Mas.” Tanya bapak gue.
“Alhamdulillah
baik”
“Yasudah
langsung masuk aja Mas” ajak bapak gue.
Pak de gue
beserta keluarganya lalu masuk. Langsung menuju ke ruang tamu. Sesaat setelah
itu. Ibu gue menawarkan mereka makan. Berhubung mereka sudah melakukan
perjalanan yang melelahkan. “Makan dulu ya” kata ibu gue. Lalu di Pak De gue
beserta keluarganya makan, bersama keluarga gue dan tentunya gue.
“udah besar
aja kamu ndri” kata Pak De gue. Lalu gue jawab dengan senyuman “Iya De, masa
kecil terus kayak pohon bonsai” lalu semua tertawa karena ucapan gue, termasuk
saudara gue. menurut gue dia cantik, dengan lesung pipi di wajahnya membuat dia
makin cantik dan manis. Sayang dia saudara gue, ungkap gue dalam hati. Lalu Pak
de gue nyeletuk lagi. “Ndri, kamu kapan nikah?” tanya Pak de gue. lalu gue
jawab lagi pertanyaan Pak de gue dengan senyuman “Kalau nggak sabtu ahad de,
doakan saja.” “berarti sudah ada calonnya dong.” Tanya Pakde gue sekali lagi.
“Hmm belum sih de” jawab gue dengan senyum senyum.
Semenjak
kejadian itu, gue lebih berhati hati lagi ketika bertemu dengan saudara saudara
gue. satu satunya cara supaya gue tidak ditanya adalah gue bertanya. Gue tahu,
mungkin mereka tidak bermaksud untuk menyinggung peraasaan gue. tetapi gue
merasa tertekan saja ketika dihadapkan pertanyaan semacam itu. Apalagi
mayoritas orang indonesia memandang bahwa ketika usia seseorang sudah menginjak
dua puluh lima bahkan lebih, maka sudah sepatutnya untuk menikah. Guna menghindari
berbagai fitnah.
Sejatinya
tidak ada orang yang ingin melajang lama lama. Namun, terkadang ada beberapa
hal yang menyebabkan seseorang itu belum menikah. Diantaranya adalah belum ada
calon. Sudah ada calon tetapi belum ada biaya. Dan masih banyak faktor lainnya
yang menyebabkan seseorang belum menikah. Jadi, daripada sibuk untuk menyakan seseorang
kapan nikah. Lebih baik bantu saudara atau teman yang belum menikah, mudahkan
dia untuk mencari jalan yang halal. Jika dia belum mendapat calon, maka
carikan. Jika dia belum ada biaya, maka tambahkan. Jika beda persaaan maka
ikhlaskan. Bukan kah jika kita membantu sesama maka suatu saat nanti kita akan
dibantu.
Berhentilah
untuk menyakan seseorang kapan menikah. Karena menanyakan kapan menikah berarti
sama saja lu menanyakan kapan dia meninggal. Karena sejatinya jodoh, rezeki,
dan maut tidak ada orang yang mengetahuinya. Semuanya hanya Allah saja yang
tahu. Semuanya sudah tercatat dalam lauhul mahfudz.
Komentar
Posting Komentar